
KupangKota.com, NTT – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur kembali memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi NTT untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif daerah melalui Flobamorata Creative Expo (FCE) 2026 yang dulu bernama Exotic Tenun Fest (ETF). Perubahan ETF menjadi FCE Agenda tersebut diperkenalkan dalam kegiatan "Sasando Dia , santai - santai duduk baomong dengan media" yang menghadirkan Kepala Perwakilan BI NTT Adidoyo Prakoso bersama jajaran deputi kepala perwakilan BI NTT yang baru, yaitu Ari Setyo Wibowo bidang Analisa PDRB, inflasi, UMKM, perekonomian, acara kehumasan, Serta Alfin Ari Wijayanto saat ini menjabat sebagai Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Bidang Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP-PUR), serta Asesmen perekonomian. Hadir juga jajaran Bank Indonesia NTT, Reza bidang UMKM dan FCE. Flobamorata Creative Expo 2026 direncanakan berlangsung pada awal 2-4 Oktober 2026 di Lippo Plaza Mall, Kota Kupang, dengan membawa tema “Flobamorata Berkarya, Menuju Perekonomian Berdaya dan Berkelanjutan.”
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT Adidoyo Prakoso menjelaskan bahwa penyelenggaraan FCE 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurutnya, peningkatan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM menjadi salah satu aspek penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi dalam jangka pendek, tetapi dapat berlangsung secara berkelanjutan. Karena itu, FCE tidak sekadar diposisikan sebagai kegiatan pameran, melainkan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang mampu menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar, pembiayaan, hingga peluang pengembangan usaha.

FCE 2026 merupakan pengembangan sekaligus rebranding dari kegiatan sebelumnya yang dikenal dengan nama Exotic Tenun Fest (ETF). Jika sebelumnya perhatian besar diberikan pada tenun, FCE memperluas ruang promosi dengan menempatkan wastra, kopi, dan kuliner sebagai komoditas unggulan yang merepresentasikan kekayaan budaya dan potensi alam NTT. Perubahan konsep ini menunjukkan adanya upaya memperluas rantai nilai ekonomi kreatif daerah, sehingga produk lokal tidak berhenti sebagai barang yang dipamerkan, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai tambah dan memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Rangkaian FCE 2026 dirancang mencakup sejumlah kegiatan yang menyentuh kebutuhan pelaku usaha dari sisi promosi maupun pengembangan bisnis. Agenda tersebut antara lain talkshow dan masterclass, kompetisi wastra, kopi dan kuliner, UMKM Expo, business matching, serta konsultasi ekspor dan pembiayaan perbankan. Melalui rangkaian tersebut, pelaku UMKM diharapkan memperoleh akses yang lebih luas terhadap pasar, lembaga pembiayaan, peluang ekspor, sekaligus pengetahuan mengenai bagaimana meningkatkan nilai tambah produk. Dengan demikian, ukuran keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari banyaknya pengunjung atau transaksi selama pameran, tetapi juga dari peluang usaha yang terbentuk setelah kegiatan berlangsung.


Selain aspek bisnis, FCE 2026 juga membawa agenda literasi dan edukasi kepada masyarakat. Sejumlah kegiatan yang disiapkan antara lain talkshow mengenai pelindungan konsumen dalam sistem pembayaran, QRIS Experience, sosialisasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, konsultasi pembiayaan perbankan, perpustakaan keliling, serta bedah buku. Masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis dan donor darah. Kehadiran berbagai kegiatan tersebut membuat FCE tidak hanya diarahkan sebagai ruang promosi produk, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat dengan berbagai layanan edukasi dan sosial.
Flobamorata Creative Expo 2026 turut membawa pesan solidaritas melalui subtema “Boka Ngere Ki, Bere Ngere Ae”, yang dalam bahasa Ende bermakna “Bersama, Saling Peduli, Menguatkan Untuk Bangkit.” Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan FCE di tengah kondisi masyarakat NTT, khususnya di Pulau Flores, yang sedang menghadapi dampak bencana alam. Bentuk kepedulian tersebut akan diwujudkan melalui donasi dari hasil penjualan produk UMKM selama FCE, lelang tenun khusus yang seluruh hasil penjualannya akan disumbangkan kepada masyarakat terdampak bencana gempa bumi, serta kanal donasi melalui QRIS ChariTreee.

Secara keseluruhan, FCE 2026 dirancang dengan kerangka 3I+S, yakni impactful, inklusif, integrasi, dan sinergi. Kerangka tersebut menempatkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian penting dalam menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat. Bank Indonesia NTT berharap kegiatan tersebut mampu mempertemukan pemerintah, pelaku UMKM, perbankan, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan ekonomi kreatif daerah.

Pada akhirnya, Flobamorata Creative Expo 2026 diarahkan untuk membuka jalan bagi produk kopi, wastra, dan kuliner NTT agar mampu menembus pasar nasional hingga mancanegara. Tantangannya bukan hanya bagaimana membuat produk lokal dikenal, tetapi bagaimana memastikan kualitas, kapasitas produksi, akses pembiayaan, pemasaran, legalitas, serta kemampuan memenuhi permintaan pasar dapat berjalan secara berkesinambungan. Keberlanjutan program setelah expo juga menjadi faktor penting agar promosi yang dilakukan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menghasilkan perluasan pasar dan peningkatan nilai ekonomi bagi pelaku UMKM NTT.(RyGuN)
Editor : Guntara
Sumber dan Foto : Kupangkota.com , Siaran Pers Bank Indonesia NTT, Nomor : 28/57/Kpa/PR
Baca Juga : Kartu Kredit Indonesia dan Kebijakan MDR 0 Persen Perkuat Ekosistem Ekonomi Keuangan Digital
Baca Juga : Kumpulan Berita dan Informasi di Kupang dan Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur
- Details
- Written by Admin
- Category: Berita
- Published: 23 September 2026
- Hits: 236






















